In the News
Article of the Day
Your Ad Here

Dependent Clauses

Dependent clause adalah klausa yang memberikan informasi tambahan kepada independent clause atau main clause, tetapi keberadaannya tidak menjadi keharusan dalam melengkapi pokok pikiran kalimat.

Meskipun dependent clause mempunyai subjek dan predikat, tetapi ia tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat lengkap.


Dependent clause, yang juga dikenal dengan istilah subordinate clause, umumnya diawali dengan dependent word. Salah satu dari dependent word adalah subordinating conjunction. Dan dependent clauses yang diawali subordinating conjunctions biasa disebut adverbial clauses dan berlaku seperti halnya adverbs. Perhatikan contoh berikut (yang bergaris bawah adalah subordinating conjunction):

Wherever she goes, she leaves a piece of luggage behind.
(Adverbial clause wherever she goes menerangkan the verba leaves.)

Bob enjoyed the movie more than I did.
(Adverbial clause than I did menerangkan adverbia more.)


Dependent word lainnya adalah relative pronoun. Dependent clauses yang diawali relative pronouns dikenal sebagai adjective clauses yang berlaku seperti adjektiva, atau noun clauses yang berlaku sebagai nomina. Perhatikan contoh berikut di bawah ini (yang bergaris bawah adalah relative pronoun):

The only one of the seven dwarfs who does not have a beard is Dopey.
(Adjective clause who does not have a beard menerangkan nomina one.)

No one understands why experience is something you don't get until just after you need it.
(Noun clause why experience is something you don't get until just after you need it berfungsi sebagai direct object.)


Jadi, ada tiga jenis dependent clauses, yaitu noun clauses, adjective clauses, dan adverb clauses. Dan masing-masing klausa berbeda penggunaannya dalam kalimat.

Noun clause dalam kalimat berperan sebagai subjek dari verba atau objek dari verba atau preposisi, seperti pada contoh berikut:
- What you say is not as important as how you say it.
- I imagine that they're having a good time.
- I keep thinking about what happened yesterday.

Adjective clause berfungsi menerangkan nomina atau frase nomina dan biasanya terletak sesudahnya.
- The woman I spoke to said otherwise.
- We have to consider the possibility that he's lying to us.

Adverb clause dipakai untuk menerangkan seluruh kalimat (main clause) dan dapat terletak di awal atau di akhir kalimat.
- When she gets here, all will be explained.
- He was annoyed by the whole thing, which was unfortunate, but unavoidable.



Read more...

Independent Clauses

Independent clause, atau bisa juga disebut main clause, adalah kalimat yang mempunyai gagasan atau pokok pikiran yang lengkap (complete thought). Dan memiliki subjek dan predikat (verb) dalam struktur kalimatnya.

Setiap independent clause selalu memiliki pola:

Subject + Verb = Complete Thought

Umumnya kalimat yang sering kita sebut sebagai suatu kalimat yang kita temui sehari-hari dapat disebut sebagai independent clause. Tentu saja, kalimat tersebut harus mempunyai subjek dan predikat yang mengungkapkan gagasan atau pokok pikiran, meskipun dalam bentuk yang sederhana. Kemampuan mengenali dan mengetahui apakah suatu klausa itu independent atau bukan adalah hal yang sangat penting untuk menulis dalam bahasa Inggris dengan baik dan menghindari sentence fragment dan run-on sentences.

Bob didn't mean to do it, but he did it anyway.

Kalimat di atas mempunyai dua independent clauses“Bob didn’t mean to do it” dan “he did it anyway” – yang dihubungkan dengan tanda baca koma dan coordinating conjunction (but). (Bila kata but tidak disertakan dalam kalimat, maka kalimat tersebut tidak terhubung dengan benar dan mempunyai kesalahan yang biasa disebut dengan istilah comma splice).

Contoh independent clause lainnya:
- I am a bus driver.
- I wanted a new ball.
- Diane kicked the soda machine.
- A giant spider has made its home behind the shampoo bottle in Neil's bathroom.
- Paper, printing and binding may become things of the past.

Ingat, dalam setiap kalimat setidaknya harus ada satu independent clause. Karena klausa ini merupakan komponen utama yang harus ada dalam sebuah kalimat. Tanpa independent clause kalimat menjadi salah (sentence fragment).

Suatu kalimat dapat berisi beberapa unit gramatikal, misalnya participle phrases, prepositional phrases, subordinate clauses, appositives, etc. Bagaimanapun juga, keberadaan independent clause dalam kalimat adalah keharusan. Perhatikan contoh berikut:

While dissecting a cow heart in her anatomy and physiology class, Shenicka realized that a Burger King Whopper, her favorite lunch, was no longer appetizing.

Pada kalimat di atas, “Shenicka realized” adalah independent clause.




Read more...

Clauses

Clauses atau klausa adalah kelompok kata yang mempunyai unsur subjek dan predikat (verb). Klausa berbeda dengan frase, meskipun sama-sama berupa kumpulan kata, frase tidak memiliki subjek dan predikat.

Klausa, seperti halnya frase, akan memperkaya nilai sebuah tulisan atau komunikasi karena klausa menambah nilai kejelasan dan maksud suatu kalimat. Tidak hanya itu, klausa juga menyatukan ide atau gagasan-gagasan yang saling terkait, sehingga kalimat menjadi lebih terstruktur dan logis.

Ada dua jenis klausa, yaitu independent clauses dan dependent clauses.

Independent clauses adalah suatu kalimat lengkap dan memiliki subjek dan predikat yang menyatakan pokok pikiran yang lengkap. Sedangkan dependent clauses adalah bagian dari kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri.

Contoh:
- I went to the store (independent)
- Because I went to the store (dependent)
- After I went to the store (dependent)
- That is the store (independent)
- But I didn’t buy any bread (dependent)
- That I went to (dependent)
- In the great fire of London in 1666 (dependent)
- Half of London was burnt down (independent)

Contoh independent clauses dan dependent clauses dalam satu kalimat:
- That is the store that I went to.
- I went to the store, but I didn't buy any bread.
- In the great fire of London in 1666, half of London was burnt down.



Read more...

Duh, Bahasa Inggris Para Guru "Kering"

Jumlah penduduk dunia diperkirakan bakal mencapai lima kali lipat pada 2050, menurut mencapai British Council. Artinya, jumlah pengguna Bahasa Inggris juga meningkat lima kali lipat. Konsekuensinya, anak yang tidak menguasai Bahasa Inggris tidak bisa menikmati peluang tersebut.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Depdiknas, Mudjito AK, saat Simposium Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar di Jakarta, Selasa (26/5).

Karena itu, lanjut Mudjito, kebutuhan penguasaan Bahasa Inggris tidak terlelakkan. Mutlak untuk setiap orang karena menjadi alat komunikasi penting bagi setiap orang.

"Pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD telah menjadi kebutuhan dasar, baik diajarkan secara mandiri maupun sebagai bahasa pengantar untuk mata pelajaran lain atau yang dikenal dengan bilingual," kata Mudjito.

Bahkan di beberapa daerah Bahasa Inggris telah menjadi satu muatan lokal. Sayangnya, menurut Penasihat Pendidikan British Council, Itje Chodidjah, sampai saat ini guru belum berhasil menjadi contoh yang baik sebagai pengguna Bahasa Inggris. Akibatnya, pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD masih harus dikembangkan lebih lanjut dan konsisten.

Itje mengakui, masih banyak kendala ditemui. Utamanya justru terletak pada guru karena mereka adalah fasilitator dan katalisator yang bisa memantik potensi berbahasa pada siswa. "Permasalahan mendasar mereka adalah pada cara menerapkan bahasanya kepada siswa dan itu banyak penyebabnya," kata Itje.

Itje menyontohkan, beberapa penyebabnya seperti pemilihan kata yang tidak tepat, pemakaian kata benda yang tidak akrab di kuping si anak, nada bicara yang tidak pas dengan kalimat, serta ekspresi wajah dan sikap tubuh yang kaku dan kadang berbeda dengan kalimat yang keluar dari sang guru.

"Karena pemahaman dan praktik Bahasa Inggris para guru saat ini rata-rata Bahasa Inggris kering atau text book, bukan komunikatif," tandas Itja. Itja menambahkan, hal itu terjadi lantaran proses aktivasi Bahasa Inggris mereka rendah.

"Padahal, sebaliknya, mereka harus luwes dan komunikatif. Kunci keberhasilan mereka ada di masalah komunikasi, yaitu penyampaian yang interaktif antara mereka dan siswa, bukan satu arah," ujar Itja.


http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/05/26/16571519/duh.bahasa.inggris.para.guru.kering



Read more...

Siapa Pun Bisa Menerjemahkan...

“Siapa pun bisa menerjemahkan,” kata seorang teman. Namun, ketika saya minta ia mencoba menerjemahkan sebuah lagu berbahasa Inggris, hasilnya sungguh membuat kami berdua tertawa terpingkal-pingkal. Duh!

Bayangkan saja, ia menerjemahkan dengan mengambil makna yang tidak dipahaminya sendiri. Dia menerjemahkan dari satu kamus Bahasa Inggris-Indonesia dan menyalinnya untuk dimasukkan dalam teks terjemahannya.

Lho, jadi, apa yang salah? Kenapa hasilnya bisa kacau begitu? Tentu saja karena penerjemah yang baik tidak akan melakukan hal seperti yang dilakukan oleh teman saya itu.

Ya, semua orang memang bisa menerjemahkan, apalagi dengan dibantu kamus. Namun, kualitas terjemahan yang baik hanya dapat dihasilkan oleh seorang penerjemah yang mematuhi berbagai proses, metode, prosedur, dan teknik penerjemahan yang tepat.

Memang, berbagai kamus tentu dapat membantu. Sebutlah, misalnya, kamus bahasa asing-bahasa sasaran (dwibahasa), kamus bahasa Inggris-Inggris, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk terjemahan ke dalam bahasa Indonesia.

Namun harus diingat, kamus-kamus tersebut hanya digunakan sebagai referensi untuk mendapatkan makna umum. Ketika makna tersebut akan dimasukkan di dalam teks terjemahan, penerjemah harus menyesuaikannya dengan konteks dan budaya bahasa sasaran.

Selain itu, perlu juga disadari bahwa tidak ada penerjemahan yang sempurna. Selalu diperlukan check and recheck untuk membuat suatu terjemahan berterima di bahasa sasaran.

Empat perbedaan

Lalu, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan penerjemahan yang baik itu?

Eltienne Dollet, yang dikutip pendapatnya oleh Eugene Nida, seorang pakar penerjemah (1964) mengatakan bahwa
• Penerjemah haruslah sepenuhnya memahami isi dan maksud pengarang yang tertuang dalam bahasa sumber.
• Penerjemah haruslah mempunyai pengetahuan bahasa yang sempurna, baik bahasa sumber, maupun bahasa terjemahannya.
• Penerjemah haruslah menghindari kecenderungan menerjemahkan kata per kata karena, apabila teknik demikian ia lakukan, maka ia akan merusak makna kata yang asli, lagi pula merusak keindahan ekspresi.
• Penerjemah haruslah mampu mempergunakan ungkapan-ungkapan yang biasa dipergunakan sehari-hari.
• Penerjemah haruslah berkemampuan menyajikan nada (tune) dan warna asli bahasa sumber dalam karya terjemahannya.

Namun, selain hal tersebut di atas, perlu pula diperhatikan bahwa setiap bahasa mempunyai sistem, peraturan kebahasaan, dan pengecualian terhadap peraturan kebahasaan sendiri-sendiri.

Kiranya, keempat perbedaan itulah yang biasanya menyebabkan kesukaran-kesukaran dalam mempelajari, memahami, apalagi untuk menguasai bahasa lain. Hal itu pun akan lebih jelas terlihat ketika penerjemah mencari padanan suatu terjemahan. Mungkin saja, ada unsur dalam bahasa sumber yang tidak ada atau berbeda di bahasa sasaran (untranslatebility), misalnya saja dari linguistik ataupun budaya. Itulah masalahnya.

Nah, masih tertarik untuk menjadi penerjemah yang baik?


Oleh: Ismarita Ramayanti M.Hum
Penulis adalah lulusan S2 UI jurusan Linguistik Spesialis Penerjemahan

http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/07/30/12274947/siapa.pun.bisa.menerjemahkan...


Read more...

How English Is Evolving Into a Language We May Not Even Understand

The targeted offenses: IF YOU ARE STOLEN, CALL THE POLICE AT ONCE. PLEASE OMNIVOROUSLY PUT THE WASTE IN GARBAGE CAN. DEFORMED MAN LAVATORY. For the past 18 months, teams of language police have been scouring Beijing on a mission to wipe out all such traces of bad English signage before the Olympics come to town in August. They're the type of goofy transgressions that we in the English homelands love to poke fun at, devoting entire Web sites to so-called Chinglish. (By the way, that last phrase means "handicapped bathroom.")

But what if these sentences aren't really bad English? What if they are evidence that the English language is happily leading an alternative lifestyle without us?

Thanks to globalization, the Allied victories in World War II, and American leadership in science and technology, English has become so successful across the world that it's escaping the boundaries of what we think it should be. In part, this is because there are fewer of us: By 2020, native speakers will make up only 15 percent of the estimated 2 billion people who will be using or learning the language. Already, most conversations in English are between nonnative speakers who use it as a lingua franca.

In China, this sort of free-form adoption of English is helped along by a shortage of native English-speaking teachers, who are hard to keep happy in rural areas for long stretches of time. An estimated 300 million Chinese — roughly equivalent to the total US population — read and write English but don't get enough quality spoken practice. The likely consequence of all this? In the future, more and more spoken English will sound increasingly like Chinese.

It's not merely that English will be salted with Chinese vocabulary for local cuisine, bon mots, and curses or that speakers will peel off words from local dialects. The Chinese and other Asians already pronounce English differently — in both subtle and not-so-subtle ways. For example, in various parts of the region they tend not to turn vowels in unstressed syllables into neutral vowels. Instead of "har-muh-nee," it's "har-moh-nee." And the sounds that begin words like this and thing are often enunciated as the letters f, v, t, or d. In Singaporean English (known as Singlish), think is pronounced "tink," and theories is "tee-oh-rees."

English will become more like Chinese in other ways, too. Some grammatical appendages unique to English (such as adding do or did to questions) will drop away, and our practice of not turning certain nouns into plurals will be ignored. Expect to be asked: "How many informations can your flash drive hold?" In Mandarin, Cantonese, and other tongues, sentences don't require subjects, which leads to phrases like this: "Our goalie not here yet, so give chance, can or not?"

One noted feature of Singlish is the use of words like ah, lah, or wah at the end of a sentence to indicate a question or get a listener to agree with you. They're each pronounced with tone — the linguistic feature that gives spoken Mandarin its musical quality — adding a specific pitch to words to alter their meaning. (If you say "xin" with an even tone, it means "heart"; with a descending tone it means "honest.") According to linguists, such words may introduce tone into other Asian-English hybrids.

Given the number of people involved, Chinglish is destined to take on a life of its own. Advertisers will play with it, as they already do in Taiwan. It will be celebrated as a form of cultural identity, as the Hong Kong Museum of Art did in a Chinglish exhibition last year. It will be used widely online and in movies, music, games, and books, as it is in Singapore. Someday, it may even be taught in schools. Ultimately, it's not that speakers will slide along a continuum, with "proper" language at one end and local English dialects on the other, as in countries where creoles are spoken. Nor will Chinglish replace native languages, as creoles sometimes do. It's that Chinglish will be just as proper as any other English on the planet.

And it's possible Chinglish will be more efficient than our version, doing away with word endings and the articles a, an, and the. After all, if you can figure out "Environmental sanitation needs your conserve," maybe conservation isn't so necessary.

Any language is constantly evolving, so it's not surprising that English, transplanted to new soil, is bearing unusual fruit. Nor is it unique that a language, spread so far from its homelands, would begin to fracture. The obvious comparison is to Latin, which broke into mutually distinct languages over hundreds of years — French, Italian, Spanish, Portuguese, Romanian. A less familiar example is Arabic: The speakers of its myriad dialects are connected through the written language of the Koran and, more recently, through the homogenized Arabic of Al Jazeera. But what's happening to English may be its own thing: It's mingling with so many more local languages than Latin ever did, that it's on a path toward a global tongue — what's coming to be known as Panglish. Soon, when Americans travel abroad, one of the languages they'll have to learn may be their own.


Michael Erard (author@umthebook.com) wrote about the spread of the Chinese language in issue 14.04.

http://www.wired.com/culture/culturereviews/magazine/16-07/st_essay



Read more...
Gunakan VocabGrapher untuk Mencari Arti atau Definisi sebuah Kata dan Relasinya